NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI PEMIMPIN AGAMA DAN KEPALA NEGARA

By mrbthoan

NABI MUHAMMAD SAW

SEBAGAI PEMIMPIN AGAMA DAN KEPALA NEGARA

Oleh : B a k r i

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu abad terpenting dalam sejarah kehidupan manusia adalah abad keenam sesudah masehi. Menjelang pertengahan abad ini, dunia berada dalam keadaan gelap dan parah dengan keadaan spiritual yang merusak kehidupan spiritual manusia. Keserakahan dan tirani telah menjarah kesejahteraan moralnya, dan penindasan telah melumpuhkan mayoritas penduduknya. Bangsa-bangsa yang dulunya pernah merdeka dan produktif , peradaban tertua di dunia , seperti Assyria, Phunisia dan Mesir, kini tidak berkutik di bawah ancaman dan cengkraman Serigala Romawi. Sementara peradaban Babilonia yang menderita akibat dominasi Persia yang sama-sama tiranisnya, hanya di bolehkan hidup marginal (terpinggirkan) sementara semua kekayaan negerinya, tanah subur antara dua sungai yakni Eufrat dan Tigris dieksploitasi untuk memenuhi perbendaharaan para kaisar Persia dan kaki tangannya.

Bangsa Arab yang tanahnya terletak antara Imperium Persia dan Romawi, merupakan sebuah negeri yang menyedihkan. Agama mereka yang sebenarnya merupakan monoteisme paling murni, yakni Agama Nabi Ibrahim telah diselewengkan oleh generasi demi generasi.

Ketika manusia melupakan sumber mulia kehidupan batinnya dan secara tamak sibuk dengan kehidupan dunia dan kemegahannya, seorang Rasul diutus oleh Allah untuk menunjukkan kepada jalan yang telah dilupakan, dan memperingatkan mereka akan ajaran yang telah dilalaikan atau diabaikannya. Tetapi selama jangka waktu yang lama tidak terlihat tanda-tanda dan terdengar firman Allah. Zaman itu menjadi titik nadir (terendah) dalam pemikiran manusia.[1]

Karena banyaknya ramalan tentang kedatangnnya, setiap orang menunggu kedatangan Nabi Muhammad Saw di era kegelapan sejarah manusia, manusia menunggu orang yang akan menghancurkan keingkaran dan kemungkaran serta akan meniupkan kehidupan baru ke dunia ini. Yudaisme dan Kristen, yang aslinya adalah agama samawi (berasal dari Allah), tidak bisa menyangkal. Orang-orang mempelajari kitab-kitab lama tanpa prasangka, khususnya Pendeta Buhairah sedang menunggu kedatangannya.

Berkata Karlil Mengenai Muhammad : “Kelahiran Muhammad adalah merupakan sumber cahaya yang menerangi kegelapan”.[2]

Dan berkata Sir Muyer : ”belum ada usaha perbaikan yang lebih sulit dan lebih jauh jangkaunnya dari pada saat munculnya Muhammad. Tapi kita belum melihat suatu keberhasilan dan perbaikan yang sempurna sebagaimana  yang telah ditinggalakan olehnya saat meninggal Dunia”.[3]

Dan berkata Leonardo : “kalau di atas bumi ini ada orang yang benar-benar mengerti tentang Allah, kalau di atas bumi ini ada orang yang berlaku ikhlas terhadapnya dan meninggal dalam berkhidmat  kepadanya dengan tujuan yang mulia, dan dengan dorongan yang besar, maka sesungguhnya orang itu adalah Muhammad. Tanpa ragu lagi , seorang Nabi dari bangsa Arab”. Tersebut dalam ensiklopedia Britania “Sesungguhnya Muhammad mempunyai keberhasilan yang belum pernah dicapai oleh seorang Nabi atau oleh pembangun agama di seluruh zaman”.

Dan berkata Buzurth : “bahwa sesungguhnya Muhammad adalah mutlak pembangun terbesar tanpa ada pertentangan pendapat”.[4]

Adapun  Muhammad dalam pandangan Umat Islam, adalah seorang pahlawan utama. Sedang menurut pandangan para pemikir dari agama-agama lain dia adalah pembangun umat terbesar, diakui mutlak. Oleh karena itu tidak patut kita berbicara tentang kepahlawanan  tanpa mendahulukan tentang kepahlawanan Muhammad Saw.

B. Permasalahan

Mengacu pada latar belakang permasalahan di atas penulis dapat menfokuskan diri untuk membahas :

1.      Bagaimana kondisi masyarakat jahiliyah sebelum datangnya Islam (lahirnya Nabi Muhammad Saw)?

2.      Seperti apakah kehidupan Rasulullah Saw sebelum kenabian

3.      Sejauh manakah rintangan dan penolakan masyarakat Quraisy terhadap pelaksanaan dakwah Nabi Muhammad Saw?

4.      Bagaimana strategi dakwah Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin agama?

5.      Bagaimana kedudukan Nabi sebagai kepala negara?

C. Tujuan / Kegunaan

Adapun tujuan / kegunaan dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui kondisi masyarakat jahiliyah sebelum datangnya Islam (lahirnya Nabi Muhammad Saw).

2.      Untuk mengetahui kehidupan Rasulullah Saw sebelum kenabian.

3.      Untuk mengetahui rintangan dan penolakan masyarakat Quraisy terhadap pelaksanaan dakwah Nabi Muhammad Saw.

4.      Untuk mengetahui strategi dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin agama.

5.      Untuk mengetahui bagaimana kedudukan Nabi sebagai kepala negara.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Kondisi masyarakat Arab sebelum datangnya Islam

Nabi Muhammad pertama kali muncul pada saat manusia kehilangan pengetahuan mereka yang berbalik menyembah berhala berupa batu, tanah, roti, dan bahkan keju. Pikiran dan moral mereka sangat rusak sehingga mereka akan memotong-motong berhala dan memakannya. Satu-satunya dalil yang mereka nyatakan adalah bahwa mereka mengikuti jejak nenek moyang mereka. Mereka juga mengubur putri mereka hidup-hidup. Wanita dipandang rendah, bukan hanya di Arab pra Islam saja tetapi juga di kawasan Romania dan Sassanid.

Setelah Muhammad memikul risalah kenabian, seorang sahabat menceritakan kepadanya apa yang pernah ia lakukan kepada putrinya:

Wahai Rasulullah, dulu saya punya anak perempuan, suatu hari saya meminta pada ibunya untuk didandani sebab saya akan membawanya pada pamannya. Istriku yang malang tahu apa arti hal ini tetapi  tidak dapat berbuat apa-apa kecuali patuh dan menangis. Ia mendandani anak perempuan itu yang sangat gembira karena akan bertemu dengan pamannya. Saya membawanya kebibir sumur dan menyuruhnya untuk melihat kedalam. Saat dia sedang melongok kesumur, saya tendang dia masuk kedalamnya. Saat ia melayang jatuh dia berteriak: ayah..ayah…[5]

Saat dia menceritakan kisah ini, Nabi menangis terisak-isak seolah-olah dia telah kehilangan salah satu kerabat dekatnya. Hati telah mengeras, setiap hari sebuah lubang digali di gunung untuk bayi, mengubur bayi tak berdosa. Manusia lebih brutal dan kejam daripada hiyena (sejenis macan). Yang  kuat menindas yang lemah. Kebrutalan dilakukan atas kemanusiaan, kekejaman, disetujui, haus darah dipuji, pertumpahan darah dianggap kebaikan, dan perzinahan serta perselingkuhan lebih lazim ketimbang perkawinan yang sah. Struktur keluarga dihancurkan.[6]

B. Kehidupan Rasulullah Saw Sebelum Kenabian

Nabi Muhammad dibesarkan dalam pengawasan Allah SWT karena ayahnya Abdullah telah meninggal sebelum beliau lahir yang berarti beliau harus menaruh semua kepercayaan kepada Allah SWT dan tunduk sepenuhnya kepadaNya. Suatu saat beliau berjalan ke kuburan ayahnya di Madinah beberapa tahun kemudian dan beliau menangis dalam hatinya, saat beliau kembali dan berkata “ Aku menangisi ayahku dan memohon agar Allah mengampuninya”. Dengan kematian ayahnya Allah mencabut darinya semua sokongan dan mengarahkannya menuju kesadaran bahwa tidak ada Tuhan yang patut  disembah selain Allah yang tiada sekutu baginya.[7]

Dalam usia muda, Muhammad hidup sebagai penggembala kambing keluarganya dan kambing penduduk kota Mekkah. Melalui kegiatan penggembalaan ini dia menemukan tempat untuk berpikir dan merenung. Dalam suasana demikian, beliau ingin melihat sesuatu dibalik semuanya. Pemikiran dan perenungan membuatnya jauh dari nafsu duniawi sehingga beliau terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak namanya, karena itu sejak muda beliau dikenal dengan sebutan al-amin, orang yang terpercaya.

Nabi Muhammad ikut untuk pertama kali dalam kafilah dagang Syiria (Syam) dalam usia baru 12 tahun dimana kafilah itu dipimpin langsung oleh Abu Thalib pamannya. Dalam perjalanan ini, di Busrah, sebelah selatan Syiria, ia bertemu dengan seorang pendeta Kristen bernama Buhairah. Pendeta itu melihat tanda-tanda kenabian pada Muhammad sesuai dengan petunjuk-petunjuk cerita Kristen. Sebagian sumber menceritakan bahwa Pendeta itu menasehatkan Abu Thalib agar jangan terlalu jauh memasuki daerah Syiria, sebab dikhawatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda tersebut akan berbuat jahat kepadanya.[8] Cerita ini dikuatkan oleh Martin Lings dalam bukunya bertajuk Muhammad; Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik. Pada halaman 43 sampai 45, Martin Lings yang memiliki nama lain Abu Bakar Siraj al-Din ini telah berhasil dengan baik menjelaskan perihal tanda-tanda kenabian Muhammad.

Jadi Nabi Muhammad memang telah diciptakan sebagai orang besar sebelum diberi wahyu dan sebelum menjadi rasul. Sejak kecil beliau sudah menghindarkan diri dari penyembahan berhala yang dianggap tuhan oleh nenek moyangnya dan merupakan sumber kejayaan di seluruh Jazirah Arabia saat itu. Dan sejak kecil beliau adalah anak yang senantiasa berkata benar dan menunaikan janjinya, dicintai dan dihormati oleh kalangan kaumnya sehingga kaumnya memanggil beliau dengan sebutan “al-Amin”.

C. Tantangan dan Penolakan Arab Quraisy Terhadap Seruan Nabi Muhammad Saw

Muhammad telah datang kepada kaumnya dengan membawa suatu ajakan yang apabila diterima maka berubalah semua tatanan hidup mereka. Jadi dakwah Nabi Muhammad itu tidak hanya menyangkut agama mereka semata-mata tapi mencakup keseluruhan lapangan kehidupan. Misalnya; kehidupan politik, kemasyarakatan, harta dan tata rumah tangga mereka. Adalah tidak dengan secara otomatis dan begitu mudah mereka untuk meninggalkan apa-apa yang mereka dapat dari nenek moyang dan apa-apa yang sudah berlaku di negeri mereka. Oleh karena itu, mereka menolak dan menghardik pembawanya agar mau kembali kepada warisan yang telah nenek moyang mereka tinggalkan dan mau mengagungkan apa saja yang mereka anggap mulia.[9]

Perhatikanlah kepadanya ketika musuh-musuhnya menyerbu dengan senjata cemoohan yang merupakan senjata paling ampuh untuk membunuh kemauan keras dan paling ampuh mematikan semangat para pejuang. Senjata cemoohan ini lebih menikam daripada siksaan dan penekanan.[10]

Sekali waktu berdirilah Nabi Muhammad di atas Bukit Shafa sambil berseru kepada orang-orang Quaraisy. Setelah mereka datang semua untuk mendengarkan seruan beliau, lalu beliaupun memberikan peringatan kepada mereka akan adanya hari perhitungan Allah Swt. Mereka seketika meninggalkan Nabi Muhammad dan berlalu pergi, bahkan paman beliau sendiri Abu Lahab berkata kepadanya; “ Celakalah Kau Hai Muhammad! Hanya untuk inikah kau memanggil kami……?”[11]

Mereka berpesan satu sama lain ; “jangan kamu dengarkan dengan sungguh akan Al-qur’an ini dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya supaya kamu dapat mengalahkannya (mereka)”.

Bahwa mereka faham benar bahwa  senjata cemooh sangat ampuh untuk melawan dakwah daripada penekanan dan penyiksaan, sehingga mereka tidak akan bisa melupakan cemoohan itu. Maka mereka takut, mereka bahkan bertambah congkak. Seorang diantara mereka berkata dan mengejek ; “Hai orang-orang Quraisy, tahukah anda sekalian apa itu pohon Zakum yang disebut Muhammad untuk menakut-nakuti kalian? Zakum itu sebenarnya ialah sejenis kurma Yastrib yang jelek terdapat di Zubdi”.

D. Strategi Dakwah Nabi Saw Sebagai Pemimpin Agama

Salah satu pelajaran berharga yang harus diambil dari Rasulullah Saw adalah cara Rasulullah mengelola dakwah beliau agar bisa diterima oleh seluruh masyarakat, mungkin sebagian orang berpendapat apa susahnya menyampaikan pesan suci kepada masyarakat karena cara menyampaikannya ini tidak ada bedanya dengan cara menyampaikan pesan-pesan yang  lain.[12]

Pada saat Allah Swt menurunkan wahyu pertama kali pada Muhammad Saw di gua hira, maka dengan demikian Allah telah mendeklarasikan beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul bagi kaumnya.

Setelah Muhammad Saw secara resmi memperoleh kenabian, maka tugas selanjutnya menyampaikan risalah islamiyah kepada seluruh ummat manusia. Rasulullah diberikan oleh Allah Swt dengan kebijaksanaan, kesabaran, kekuatan jiwa, dan kekuatan menghadapi tantangan. Dengan modal tantangan tersebut rasulullah dipanggil untuk bangkit berhadapan dengan  kaumnya. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-Mudatsir; 1-3:

$pkš‰r’¯»tƒ ãÏoO£‰ßJø9$# ÇÊÈ   óOè% ö‘É‹Rr’sù ÇËÈ   y7­/u‘ur ÷ŽÉi9s3sù ÇÌÈ

Terjemahannya :

1. Hai orang yang berkemul (berselimut),2. Bangunlah, lalu berilah peringatan!

3. Dan Tuhanmu agungkanlah!

Ayat ini mengajak dan memerintahkan Rasulullah Saw untuk menyampaikan risalahnya itu, beliau tidak langsung dalam kancah masyarakat, tetapi terlebih dahulu ditujukan kepada perorangan, terutama pada keluarga terdekat dan hal ini sesuai dengan perintah Allah Swt dalam surah Al-Syua’ara; 214:

ö‘É‹Rr&ur y7s?uŽÏ±t㠚úüÎ/tø%F{$# ÇËÊÍÈ

Terjemahnya :

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,

Dengan turunnya perintah itu, mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama beliau melakukannya secara diam-diam di lingkungan sendiri dan                 di kalangan rekan-rekannya. Karena itulah orang pertama kali yang menerima dakwahnya adalah keluarga dan sahabat dekatnya. Mula-mula istrinya sendiri, Khadijah, kemudian saudara sepupunya Ali bin Abi Tholib yang baru berumur 10 tahun. Kemudian Abu Bakar, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Lalu Zaid, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya. Ummu Aiman, pengasuh nabi sejak ibunya Aminah masih hidup, juga termasuk orang pertama yang masuk Islam. Sebagai seorang pedagang yang berpengaruh Abu Bakar berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatya, seperti Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bi Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Mereka dibawa Abu Bakar langsung kepada nabi dan masuk Islam dihadapan nabi sendiri. Dengan dakwah secara diam-diam ini, belasan orang telah memeluk agama Islam.[13]

Langkah dakwah selanjutnya yang diambil Muhammad adalah menyeru masyarakat umum. Nabi mulai menyeru segala lapisan masyarakat kepada Islam terang-terangan, baik golongan bangsawan maupun hambah sahaya. Mula-mula ia menyeru penduduk Mekah, kemudian penduduk negeri-negeri lain. Disamping itu, ia juga menyeru  orang-orang yang datang ke Mekkah dari berbagai negeri untuk mengerjakan haji. Kegiatan dakwah dijalankannya tanpa mengenal lelah. Dengan usahanya yang gigih hasil yang diharapkan mulai terlihat. Jumlah pengikut nabi yang tadinya hanya belasan orang, makin hari makin bertambah. Mereka terutama terdiri dari kaum wanita, budak, pekerja, dan orang-orang yang tidak punya. Meskipun kebanyakan mereka orang-orang yang lemah, namun semangat mereka sungguh membaja.[14]

Badri Yatim dalam bukunya menjelaskan, ketika pemimpin-pemimpin Quraisy menyadari kekuatan Muhammad semakin besar, mereka semakin beringas dalam melawan dakwah Rasul. Hingga suatu saat mereka melakukan pemboikotan kepada Bani Hasyim dalam hal pemutusan hubungan jual beli. Dalam keadaan seperti ini kaum muslimin semakin terpuruk, hingga pada akhirnya Rasul memutuskan untuk hijrah ke Yatsrib dimana sebelum peristiwa ini terjadi Rasul telah mengalami banyak peristiwa penting dalam hidupnya yang menuntut kesabaran.

E. Posisi Nabi Muhammad sebagai kepala Negara

Sebagai Rasul beliau bertugas sebagai penyampai dan pen-syarah keseluruhan wahyu yang diterimanya kepada manusia sebagaimana Allah berfirman dalam surat An-Nahl  ayat 44 :

.. !$uZø9t“Rr&ur y7ø‹s9Î) tò2Ïe%!$# tûÎiüt7çFÏ9 Ĩ$¨Z=Ï9 $tB tAÌh“çR öNÍköŽs9Î) öNßg¯=yès9ur šcr㍩3xÿtGtƒ ÇÍÍÈ

Terjemahannya :

(…Dan kami turunkan kepadamu Al-qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan).

Sebagai pembuat hukum sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 105:

!$¯RÎ) !$uZø9t“Rr& y7ø‹s9Î) |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ zNä3óstGÏ9 tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# !$oÿÏ3 y71u‘r& ª!$# 4

Terjemahannya:

Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu)

Dan firman Allah dalam Surat Al-A’raf ayat 157:

NèdããBù’tƒ Å$rã÷èyJø9$$Î/ öNßg8pk÷]tƒur Ç`tã ̍x6YßJø9$# ‘@Ïtä†ur ÞOßgs9 ÏM»t6Íh‹©Ü9$# ãPÌhptä†ur ÞOÎgøŠn=tæ

Terjemahannya :

(Nabi menyuruh mereka mengerjakan dan menghalalkan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar  dan menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka)

Dan sebagai teladan bagi ummat manusia sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Al-Ahzab ayat 21:

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ

Terjemahannya :

(Sesungguhnya yang ada pada (diri)Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat dia banyak menyebut nama Allah).

Dalam ayat-ayat tersebut ditemukan bahwa Muhammad Saw sebagai Rasul, bukan hanya penyampai dan penjelas keseluruhan wahyu Allah, tetapi juga diberi hak legislasi atau hak menetapkan hokum bagi manusia dan hak menertibkan kehidupan masyarakat, karenanya, beliau disebut contoh tauladan yang baik bagi manusia dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin agama sekaligus kepala negara.[15] Dalam sejarah Islam peristiwa Bai’at Aqabah dan perjanjian tertulis yang melahirkan Piagam Madinah, dapat diidentifikasikan sebagai praktek kontrak sosial. Karena dalam peristiwa-peristwa itulah Nabi memperoleh kekuasaan politik dan keabsahan untuk mengatur dan memimpin rakyat Madinah.

Dalam hal ini Munawir Sjadzali dalam bukunya berjudul Islam dan Tata Negara telah mengutip bahwa Piagam Madinah terdiri atas 47 butir, beliau menyimpulkan bahwa :

“batu-batu dasar yang telah diletakkan oleh Piagam Madinah sebagai landasan bagi kehidupan bernegara untuk masyarakat majemuk di Madinah adalah :1. Semua pemeluk Islam, meskipun berasal dari banyak suku tetapi merupakan satu komunitas, 2. Hubungan antara sesama anggota komunitas Islam dan antara anggota komunitas Islam dengan anggota komunitas-komunitas lainnya didasarkan atas prinsip-prinsip : a). bertetangga baik; b). saling membantu dalam menghadapi musuh bersama; c). membela mereka yang teraniaya; d). saling measehati dan; e). menghormati kebebasan beragama”.[16]

Dengan demikian, kekuasaan politik yang diperoleh Nabi berdasarkan nash dan fakta-fakta historis tersebut, bukan menurut teori kekuatan. Karena kehadirannya di Madinah bukan dengan jalan kekuatan dan penaklukan melainkan diundang oleh gelongan-gelongan Arab di kota itu dan atas perintah wahyu. Hak dan kekuasaan politik itu beliau peroleh dari Allah yang dalam teori politik disebut teokrasi, juga beliau peroleh melalui perjanjian masyarakat yang disebut kontrak sosial. Ini adalah kombinasi yang luar biasa.

Menurut al-Balqini tugas kepala negara untuk melaksanakkan fungsi negara adalah menegakkan hukum yang telah ditetapkan, membela umat dari gangguan musuh, melenyapkan penindasan dan meratakan penghasilan negara bagi rakyat. Bagi al-Baghdadi, fungsi negara yang harus  dilaksanakan kepala negara adalah melaksanakan undang-undang dan pengaturan, melaksanakan hukuman bagi pelanggar  hukum, mengatur militer dan megelola zakat serta pajak. Selanjutnya al-Mawardi berpendapat bahwa fungsi negara yang harus diwujudkan kepala negara adalah menjamin hak-hak rakyat dan hukum Tuhan, menegakkan keadilan, membangun kekuatan untuk menghadapi musuh, melakukan jihad terhadap orang yang menentang Islam, memungut pajak dan zakat, meminta nasihat dan pandangan dari orang-orang terpercaya, dan kepala negara harus langsung mengatur urusan umat dan agama, dan meneliti keadaan yang sebenarnya.[17]

Tugas-tugas seperti tersebut di atas juga dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau membuat undang-undang dalam bentuk tertulis, mempersatukan penduduk Madinah untuk mencegah konflik-konflik di antara mereka agar terjamin ketertiban interen, menjamin kebebasan bagi semua golongan, mengatur militer, memimpin peperangan, melaksanakan hukuman bagi pelanggar hukum, menerima perutusan-perutusan dari luar Madinah, mengirim surat-surat kepada para penguasa di Jazirah Arab, mengadakan perjanjian damai dengan tetangga agar terjamin keamanan eksteren, mengelola zakat dan pajak serta larangan riba di bidang ekonomi dan perdagangan untuk menjembatani jurang pemisah antara golongan kaya dan miskin, dan menunjuk para sahabat untuk menjadi hakim di daerah-daerah luar Madinah serta mendelegasikan tugas-tugas kepada para sahabat.

Tugas yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Saw tersebut menunjukkan kesamaan dengan konsep dan teori politik dan kenegaraan tentang tugas kepala negara dan dengan demikian posisi beliau di samping seorang Rasul juga dapat dikatakan sebagai kepala negara.

Karena itu, Watt menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai seorang negarawan dengan mengemukakan empat alasan, 1. Muhammad Saw memiliki bakat sebagai seorang yang mampu melihat sesuatu sebelum terjadi karena didukung wahyu dan kejeniusannya, 2. Kearifannya sebagai negarawan, beliau tunjukkan dalam menerapkan struktur ajaran Al-Qur’an yang global secara kongkrit melalui kebijaksanaannya yang tepat, 3. Reformasi di bidang sosial yang berwawasan jauh yang ditunjang oleh strategi politik yang akurat, 4. Beliau mempunyai kemampuan sebagai administrator dan arif dalam menunjuk pembantunya untuk melaksanakan tugas-tugas administrator.[18]

Semakin jelas dengan komentar Watt di atas bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang handal baik itu dalam hubungan dia sebagai kepala agama maupun kepala pemerintahan. Sehingga tidaklah mengherankan kalau seorang Michael H. Hart dalam bukunya yang berjudul Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, menempatkan Muhammad bin Abdullah sebagai tokoh nomor wahid dalam panggung sejarah dunia.

BAB III

PENUTUP

Merunut uraian yang telah dikemukakan terkait dengan materi makalah “Nabi Muhammad Saw sebagai Pemimpin Agama dan Kepala Negara” maka penulis dapat menarik konklusi sebagai berikut:

1)      Kota Mekkah adalah salah satu kota yang penting di Negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya yang strategis sebagai kota jalur perdagangan juga sebagai kota tempat berziarah bagi penyembah berhala. Sebelum datangnya Islam masyarakat Arab Quraisy telah mengenal agama samawi yang sudah berkembang baik Nasrani maupun Yahudi yang pada akhirnya diselewengkan.

2)      Jauh sebelum Muhammad menjadi Rasul dan Nabi, beliau sudah dikenal oleh masyarakat Quraisy sebagai pemuda tangguh, ulet, tegar, jujur, dan bisa dipercaya sehingga mendapat julukan al-Amin.

3)      Pada hakekatnya tantangan dan rintangan yang dihadapi oleh Nabi Muhammad Saw dalam melaksanakan dakwahnya, tidak terlepas dari persoalan politik, sosial, budaya dan ekonomi. Masyarakat Quraisy yang begitu brutal dan jahil selalu berupaya menggagalkan misi beliau dalam menyiarkan agama Islam. Meski kemudian kemenangan berpihak pada Rasulullah dan umat muslim.

4)      Strategi dakwah Nabi di Mekkah adalah strategi yang sangat tepat dengan melaksanakan dakwah secara rahasia mengingat kondisi yang tidak memungkinkan untuk misinya. Secara bertahap beliau akhirnya berdakwah secara terang-terangan dengan bantuan dari para sahabatya. Hingga kemudian Allah memerintahkan untuk hijrah ke Madinah, dan di sanalah pintu kemenangan satu demi satu digapai dan pada gilirannya Mekkah bisa ditaklukkan dan dikuasai oleh umat Islam di bawah pimpinan Rasulullah.

5)      Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Rasulullah adalah pola pemerintahan yang sangat sempurna, yakni mandat Ilahi yang terkombinasikan baik dengan kontrak sosial. Beliau tidak hanya menjadi pemimpin kaum muslimin tapi juga seluruh kalangan baik lintas agama, kabilah, suku dan kepercayaan.

DAFTAR PUSTAKA

Al Qur’anul Kariem

Abdurrahman Azam, Keagungan Nabi Muhammad Saw, Cet III, 1997.

Al-Ismail, Tahiya, Sejarah Ringkas Muhammad Saw, Perjuangan dan Peribadatannya   mengembankan Risalah Tauhid, Cet,2. Penerjemah.     A Nasir Budiman ; Jakarta,   PT Raja Grapindo Persada,2001.

Al-Ismail, Tahiya, Tarikh Muhammad, Teladan Perilaku Ummat, Cet,2. Penerjemah. A Nasir Budiman ; Jakarta, PT Raja Grapindo Persada, 1996.

Al-Maliki,Alwi. Tanda-Tanda Kenabian Muhammad, Cet 1 diterjemahkan olehIdrus A. Alkaff; Surabaya, Putra Pelajar, 2001.

Azis. Saifullah, Wafatnya Rasulullah Muhammad Saw, Cet. 1 Surabaya, Putra Pelajar       2002.

H. Hart, Michael, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Penerjemah Mahbub Djunaidi, Jakarta, PT. Dunia Pustaka Jaya, 1982.

Iyad Ibn Musa Al-Yashubi, Keagungan Kekasih Allah Muhammad Saw, Keistimewaan     Personal Keteladanan Berisalah. Cet 1. Penerjemah, Gufron. A. masadi, PT Raja Grapindo Persada, 2002.

J.Suyuti Pulungan, Prinsip-Prinsip Pemerintahan Dalam Piagam Madinah Ditinjau Dari Pandangan Al-Qur’an, Cet.II; PT Raja Grapindo Persada, 1996.

M. Fethullah Gulen, Versi Teladan Kehidupan Rasulullah Muhammad Saw. Cet I 2002.

Lings, Martin, Muhammad; Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, Edisi I, Penerjemah Qamaruddin SF, Jakarta, PT. Serambi Ilmu Semesta, 2002.

M.Rawas Qal’ah, Menyibak Tabir Kepribadian Agung Rasul Muhammad Saw. Penerjemah. Dede Koeswara, Jakarta, Mahabbah Pustaka.

Murtadha Mutahharu. Cara Lain  Melihat Sejarah Nabi, Sirah Sang Nabi, penerjemah       Salman Nano. Jakarta: Alhuda. 2006.

Rahman, Fazlur, Nabi Muhammad Sebagai Pemimpin Militer, Cet I : Jakarta Sinar Grafika Offset, 2002.

Ridho, Muhammad, Muhammad Rasulullah Saw, Beirut; Darul Kutub Ilmiyyah.

Sjadzali, Munawir, Islam dan Tata Negara; Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran, Cet. I, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia UI-Press, 1990.

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Cet XXII; PT Raja Grapindo Persada,2010.


[1]Tahia al-Ismail, Sejarah Ringkas Muhammad Saw, Perjuangan Peribadatannya Mengembangkan Risalah Tauhid (Cet II: Jakarta; PT Rajagrapindo Persada, 1996) h.2

[2] Abdurrahman ‘Azam, Keagungan Nabi Muhammad Saw,(Cet III;Jakarta,Pedoman Ilmu Jaya, 1997)h.2

[3] Ibid, h.3

[4] Abdurrahman ‘Azam, op. cit,h.3.

[5] M Fethullah Gulen. Prophet Muhammad Aspect of His Life, diterjemahkan oleh Tri Wibowo Budi Santoso dengan judul Versi Teladan Kehidupan Rasulullah Muhammad Saw (Jakarta:PT Raja Grapindo Persada,2002)h.2.

[6] M.Fethullah Gulen, op.cit.h.3

[7] Ibid,h.4

[8] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II (Jakarta;PT Raja Grapindo Persada,2010) Cet,22. h. 17.

[9] Abdurrahman ‘Azam, op.cit,h.12.

[10] Ibid,h 22

[11] Muhammad Ridha, Muhammad Rasulullah Saw, (Beirut: Darul Kutub)h.95

[12] Murtadha Mutahhari. Sire-ye Nabawi, diterjamahkan oleh Salman Nano dengan judul Cara lain Malihat Sirah Sang Nabi. (Jakarta: Alhuda,2006)h.105

[13] Badri Yatim, op.cit.h 19-20.

[14] Ibid, h.20

[15]Suyuti Pulungan. Prinsip-Prinsip Pemerintahan Dalam Piagam Madinah Dari Pandangan Al-qur’an (Cet. II; Jakarta: PT Garpindo Persada, 1996), h. 68-69

[16]Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara; Ajaran, Sejarah dan Pemikiran (  Cet. I; Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia UI-Press, 1990), h. 15-16.

[17] Suyuti Pulungan. Op.cit.h77

[18] Suyuti Pulungan. Op.cit. h79