JAM’UL QUR’AN WA KITABATUHU
(By. Bakri, S.Pd.I)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’a>n merupakan sumber rujukan utama yang menempati posisi sentral bagi seluruh disiplin ilmu ke Islaman. Kitab suci ini, di samping menjadi al-huda (petunjuk), juga sebagai al-bayyinah (penjelas) serta menjadi al-furqa>n (pemisah antara yang benar dan yang salah) yang diturunkan dalam kurun waktu kurang lebih 23 tahun lamanya.
Pengumpulan dan penyusunan al-Qur’a>n dalam bentuk seperti saat ini, tidak terjadi dalam satu masa, tapi berlangsung beberapa tahun atas upaya beberapa orang dan berbagai kelompok.
Cara lazim dalam menjaga al-Qur’a>n pada masa Nabi dan Sahabat adalah dengan hafalan ( al-jan’ fi s}udur). Hal ini selain karena masih banyak sahabat yang buta huruf, juga karena hafalan orang Arab ketika itu terkenal kuat. Bisa dimaklumi jika pencatatan al-Qur’a>n belum merupakan alat pemeliharaan yang handal, karena dari segi teknis, alat-alat tulis ketika itu masih sangat sederhana dan rawan terhadap kerusakan. Bahan tempat menulis berasal dari pelepah-pelepah kurma dan tulang-belulang yang gampang lapuk dan patah, tinta yang mudah luntur, dan alat tulis yang sangat sederhana.
Seiring perjalanan waktu dalam sejarah, mulai diturunkannya al-Qur’a>n hingga wafatnya Rasulullah saw. sampai kepada periode Khulafa’ al-Ra>syidu>n, masing-masing periode memiliki cara dan metode dalam memelihara dan mengumpulkan al-Qur’a>n.
Dari hal tersebut di atas, maka menarik untuk dikaji, khususnya aspek sejarah dari proses pengumpulan al-Qur’a>n pada masa Rasulullah saw sampai pada masa sahabat, dan juga usaha lanjutan pemeliharaan al-Qur’a>n pasca Khulafa’ al-Ra>syidu>n.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan di atas, penulis mencoba mengemukakan beberapa permasalahan pokok berkaitan dengan materi makalah ini, yaitu;
1. Apa pengertian Jam’ul al-Qur’a>n?
2. Bagaimana pengumpulan al-Qur’a>n pada masa Nabi Muhammad saw?
3. Bagaimana pengumpulan al-Qur’a>n pada masa Khulafa’ al-Ra>syidu>n?
4. Bagaimana usaha lanjutan pemeliharaan al-Qur’a>n pasca Khulafa’ al-Ra>syidu>n.
C. Tujuan dan Kegunaan
Adapun tujuan dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk memahami pengertian Jam’ul Qur’a>n.
2. Untuk memahami pengumpulan al-Qur’a>n pada masa Nabi Muhammad saw.
3. Untuk memahami pengumpulan al-Qur’a>n pada masa Khulafa’ al-Ra>syidu>n.
4. Untuk memahami usaha lanjutan pemeliharaan al-Qur’a>n pasca Khulafa’ al-Ra>syidu>n.

Sementara kegunaan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Kegunaan ilmiah; mengkaji secara dalam tentang pengertian al-Qur’a>n, pecatatan dan pengumpulannya pada masa Nabi, Khulafa’ al-Ra>syidu>n, dan pasca Khulafa’ al-Ra>syidu>n.
2. Kegunaan praktis; mempertebal keyakinan umat Islam dalam meyakini al-Qur’a>n sebagai Kitab Suci yang diturunkan dari sisi Yang Mahasuci, sehingga tidak ada kekurangan atau kecelaan-kecelaan padanya sehingga hal ini akan memberikan dorongan penuh keyainan pada umat Islam untuk mengimplementasikan tiap-tiap ajaran al-Qur’a>n dalam kehidpannya secara penuh tidak ada keraguan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Jam’ul al-Qur’a>n
Kata al-Jam’u berasal dari kata ”Jama’a – Yajma’u – Jam’an” yang berarti pengumpulan atau penghimpunan. Adapun makna al-Qur’a>n menurut bahasa, kata qur’a>n adalah bentuk masdar (kata benda verbal) dari qara>’a yang berarti membaca, baik membaca dengan melihat tulisan ataupun secara menghafal. Jadi Jam’ul Qur’a>n berarti upaya mengumpulkan al-Qur’a>n yang berserakan untuk diteliti dan diselidiki.
Menurut Mardan, yang dimaksud dengan ’pengumpulan’(pengkodifikasian) al-Qur’a>n di kalangan ulama adalah salah satu dari dua pengertian berikut :
1. Jam’ul Qur’a>n dalam arti hifz}uhu (menghafalnya dalam hati). Inilah makna yang dimaksudkan dalam firman Allah, QS. Al-Qiyamah, 75: 16-19 kepada Nabi. Nabi senantiasa menggerak-gerakkan kedua bibir dan lidahnya untuk membaca al-Qur’a>n, ketika diturunkan kepadanya sebelum Jibril selesai membacakanya, karena ingin menghafalnya.
2. Jam’ul Qur’a>n dalam arti kita>batuhu kullihi (penulisan al-Qur’a>n semuanya). Ini dimaksudkan adalah baik dengan memisah-misahkan ayat-ayat dan surah-surahnya, atau menertibkan ayat-ayat semata; baik setiap surah ditulis dalam suatu lembaran secara terpisah, ataupun menertibkan ayat-ayat dan surah-surahnya dalam lembaran-lembaran yang terkumpul, yang menghimpun semua surah, yang sebagiannya ditulis sesudah bagian yang lain.
Sebagian besar literatur yang membahas tentang ilmu-ilmu al-Qur’a>n menjelaskan bahwa Jam’ul Qur’a>n meliputi proses penyampaian, pencatatan, pengumpulan catatan dan kodifikasi hingga menjadi mushaf al-Qur’a>n.
B. Pengumpulan al-Qur’a>n pada Masa Nabi
Kodifikasi atau pengumpulan al-Qur’a>n telah dimulai sejak zaman Rasulullah saw., bahkan telah dimulai sejak masa-masa awal turunnya al-Qur’a>n. Sebagaimana diketahui, al-Qur’a>n diturunkan secara berangsur-angsur, hal ini disesuaikan dengan keadaan Rasulullah dan agar lebih mudah untuk menghafalnya baik oleh Nabi maupun para sahabat.
Pengumpulan ayat-ayat al-Qur’a>n di masa Nabi saw. terbagi atas dua kategori:
1. Pengumpulan al-Qur’a>n dalam dada.
Al-Qur’a>n diturunkan kepada Rasulullah saw, di mana beliau dikenal seorang ummi (tidak dapat membaca dan menulis). Oleh karenanya setiap ayat al-Qur’a>n diturunkan, beliau hanya menghafal dan menghayatainya agar penguasaannya terhadap al-Qur’a>n persis sebagaimana aslinya. Dan setelah itu, beliau membacakannya kepada sahabat dan ummatnya sejelas mungkin dan memerintahkan kepada mereka untuk dapat menghafal dan memantapkannya . Hal ini persis dengan janji Allah dalam QS. Al-Qiyamah (75):16-19.
       •       •    •   
Artinya: Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur’a>n Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.

Para sahabat langsung menghafal al-Qur’a>n tersebut di luar kepala setiap kali Rasulullah saw. menyampaikan wahyu kepada mereka. Hal ini bisa mereka lakukan dengan mudah terkait dengan kultur (budaya) orang Arab yang menjaga peninggalan nenek moyang mereka dengan cara hafalan.
Manna’ al-Qattan mengutip hadis\ dari kitab S{hahih Bukhari tentang tujuh hafidz, melalui tiga riwayat. Mereka adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qal, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin S|abit, Abu Zaid bin Sakan dan Abu Darda’.
2. Pemeliharaan al-Qur’a>n dengan tulisan
Walaupun Nabi Muhammad saw dan para sahabat menghafal ayat-ayat al-Qur’a>n secara keseluruhan, namun guna menjamin terpeliharanya wahyu Ilahi beliau tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga tulisan.
Sejarah menginformasikan bahwa setiap ayat yang turun Rasulullah memanggil sahabat sahabat yang dikenal pandai menulis. Rasulullah mengangkat beberapa penulis wahyu seperti Ali, Muawiyah, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin S|abit. Bila ayat turun, ia memerintahkan mereka menuliskannya dan menunjukkan di mana tempat ayat tersebut dalam surat. Ayat- ayat al-Qur’a>n mereka tulis pada pelepah kurma, lempengan batu, kulit dan tulang binatang .
Tulisan-tulisan al-Qur’a>n pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf. Biasanya yang ada di tangan seorang sahabat misalnya belum tentu dimiliki oleh yang lainnya. Menurut para ulama, di antara sahabat yang menghafal seluruh isi al-Qur’a>n ketika Rasulullah masih hidup adalah Ali bin Abi Thalib, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Mas’ud.
Al–Zarqani menyebutkan dalam kitabnya Manahil al-Irfan bahwasanya faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga al-Qur’a>n tidak dibukukan pada masa Nabi adalah sebagai berikut:
a. Sarana tulis menulis pada waktu itu sangat minim dan sangat susah mendapatkannya.
b. Nabi senantiasa menunggu keberlanjutan wahyu karena adanya ayat-ayat yang dinasakh setelah diturunkannya.
c. Ayat-ayat tidak diturunkan sekaligus.
d. Ayat-ayat al-Qur’a>n turun pada umumnya sebagai jawaban dari suatu pertanyaan atau kondisi masyarakat sehingga tidak turun dalam keadaan tersusun ayatnya.
Dengan melihat penjelasan tersebut di atas, maka jelaslah bahwa sejak zaman Rasulullah telah terjadi pengumpulan al-Qur’a>n walaupun tulisan tersebut belum dalam bentuk mushaf seperti sekarang, tetapi ini cukup menjadi bukti bahwa sudah ada penulisan al-Qur’a>n pada saat itu.
C. Pengumpulan al-Qur’a>n pada Masa Khulafa’ al-Ra>syidu>n
1. Pengumpulan al-Qur’a>n pada Masa Abu Bakar
Rasulullah saw berpulang kerahmatullah setelah beliau menyampaikan risalah dan menyampaikan amanat serta memberi petunjuk kepada umatnya untuk menjalankan agama yang lurus. Setelah beliau wafat, kekhalifahan dipegang oleh Abu Bakar al-Siddiq r.a. Pada masa pemerintahannya, ia banyak menghadapi masalah di antaranya memerangi orang-orang yang murtad, serta memerangi pengikut Musailamah al-Kazzab yang mengaku sebagai nabi.
Ketika terjadi perang Yamamah, banyak kalangan sahabat penghafal al-Qur’a>n dan ahli bacanya yang gugur. Jumlahnya lebih 70 orang huffadz ternama. Melihat banyaknya penghafal al-Qur’a>n yang gugur, Umar merasa prihatin lalu beliau menemui Abu Bakar dan berkata: “Telah banyak di antara para huffadz dan qurra’ yang gugur dalam medan pertempuran, aku khawatir akan gugur pula yang lainnya, sehingga hilang apa yang tersimpan dalam dada mereka dan lenyaplah ayat-ayat al-Qur’a>n itu. Menurut pendapatku, baiklah kiranya jika engkau memerintahkan agar al-Qur’a>n dikumpulkan . Pada awalnya Abu Bakar ragu, karena hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Namun setelah dijelaskan oleh Umar tentang nilai positifnya, ia kemudian menerima usul tersebut.
Zaid bin Tsabit adalah orang yang ditunjuk Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Qur’a>n dalam satu mushaf. Adapun alasan penunjukan Zaid oleh karena beliau berusia muda, berintelegensi tinggi dan pekerjaannya di masa Nabi sebagai penulis wahyu .
Meskipun pada awalnya Zaid bin Tsabit juga ragu namun pada akhirnya ia bersedia melaksanakan hal tersebut. Atas kesediaan Zaid bin Tsabit, dibuatlah sebuah panitia yang diketuainya, sedang anggotanya adalah Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan.
Dalam menjalankan tugasnya, berbagai metode dilakukan untuk mengumpulkan al-Qur’a>n. Diantaranya mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur’a>n dari para sahabat, mencocokkan dengan hafalan para sahabat, ataupun menghadirkan dua orang saksi yang menyaksikan bahwa pembawa al-Qur’a>n itu telah mendengarnya dari lisan Rasulullah saw. .
Zaid bin Sabit mengumpulkan al-Qur’a>n dari pelepah kurma, kepingan-kepingan batu, dan dari hafalan para penghafal, sampai akhirnya dia mendapatkan akhir surah at-Taubah ayat 128 berada pada Abu Khuzaimah al-Ansari, yang tidak di dapatkan pada orang lain, yang berbunyi : “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri….” hingga akhir surah. Setelah selesai dikumpulkan, ia di tangan Abu Bakar. Setelah ia wafat, mushaf itu berpindah kepada Umar hingga wafatnya, kemudian ke tangan Hafsah, putri Umar. Sesudahnya, Utsman memintanya dari Hafsah. Dengan demikian, Abu Bakar adalah orang pertama yang mengumpulkan al-Qur’a>n dalam satu mushaf. Dengan cara seperti inilah Zaid mengumpulkan ayat-ayat dan surah-surah al-Qur’a>n dan mengumpulkannya yang sebelumnya terpisah-pisah.
Masa pengumpulan al-Qur’a>n ini terlihat sangat singkat. Sebagaimana diketahui, Abu Bakar hanya memerintah kekhalifaan Islam ketika itu selama kurang lebih dua tahun mulai Rabi’ul Awwal 11 H sampai Jumadil Tsani 13 H.. Sementara Zaid melalui tugasnya setelah peperangan Yamamah (bulan ketiga tahun 12 H). Hal ini berarti bahwa waktu yang tersisa bagi Zaid hanya 15 bulan.
Al-Zarqani mengemukakan bahwa mushaf yang disusun pada masa Abu Bakar hanyalah penulisan urutan-urutan ayat-ayatnya saja tanpa mengurut surah-surahnya.
Demikianlah pengumpulan al-Qur’a>n pada masa kekhalifahan Abu Bakar, yang dilakukan dengan berbagai metode dalam rangka menjaga validitas dan keutuhan al-Qur’a>n.
Para ulama’ berpendapat bahwa penamaan al-Qur’a>n dengan “mushaf” baru muncul sejak saat itu, yakni pada saat Abu Bakar mengumpulkan al-Qur’a>n. Ali bin Abi Thalib berkata, orang yang paling besar pahalanya dalam hal mushaf ialah Abu Bakar. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya. Dialah yang pertama mengumpulkan Kitab Allah. Pengumpulan ini dinamakan “Pengumpulan Kedua”.
2. Pengumpulan al-Qur’a>n pada Masa Utsman bin Affan
Ketika Utsman bin Affan memegang kekhalifahan, dan para sahabat berpencar keberbagai daerah dan masing-masing membawa bacaan yang didengarnya dari Rasulullah saw. serta di antara mereka ada yang memiliki bacaan yang tidak dimiliki oleh lainnya, orang-orang berbeda pendapat dalam bacaan. Setiap pembaca (qari’) mengunggulkan bacaannya dan menyalahkan bacaan qari’ lainnya sehingga permasalahan tersebut menjadi besar, perselisihanpun semakin memuncak.
Sebagaimana yang digambarkan dalam sejarah, bahwa sekembalinya Huzaifah bin al-Yaman dari peperangan menaklukkan daerah Armenia dan Azerbaijan, ia mengutarakan kekhawatiran kepada khalifah Usman bin Affan tentang perbedaan bacaan al-Qur’a>n di kalangan kaum muslimin. Mihsan menggambarkan bahwa penduduk Syam memakai bacaan Ubay bin Ka’ab, penduduk Kuffah memakai bacaan Abdullah bin Mas’ud dan penduduk lainnya memakai bacaan Abu Musa Al-Asy’ari. Cara-cara pembacaan al-Qur’a>n yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan huruf yang dengan al-Qur’a>n diturunkan. Apabila mereka berkumpul pada suatu pertemuan, atau di suatu medan pertempuran, sebagian mereka merasa heran akan adanya perbedaan qira’at itu.
Atas kejadian tersebut, Utsman kemudian bermusyawarah dengan para sahabat mengenai apa yang harus dilakukan. Dalam musyawarah tersebut Utsman dan para sahabat bersepakat untuk menyalin kembali Mushaf al-Qur’a>n yang ada pada tangan Hafsah untuk dijadikan rujukan apabila terjadi perselisihan tentang cara membaca al-Qur’a>n. Untuk melaksanakan tugas tersebut, Usman menunjuk satu tim yang terdiri dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash dan Abdul Rahman bin Haris bin Hasyim.
Setelah kumpulan tulisan itu sampai ketangan Utsman, ia kemudian menugaskan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin al-Ash dan Abdul Rahman bin al-Harits bin Hisyam untuk menyalin shuhuf-shuhuf tersebut kedalam beberapa mushaf. Proses penyalinan lembaran tersebut ke dalam mushaf disertai dengan perintah Utsman bahwa apabila terdapat perbedaan atas beberapa tulisan dalam lembaran tersebut, maka tulislah dalam bahasa Quraisy dengan alasan bahwa al-Qur’a>n diturunkan dengan lisan (bahasa) Quraisy.
Ladjnah yang dibentuk oleh Usman itu menyelesaikan usahanya pada tahun 25 Hijriyah, atau pada tahun 30 Hijriyah setelah delapan tahun tampuk pemerintahan dipegang oleh Usman ibn Affan. Menurut dugaan, besar sekali kemungkinan, bahwa pekerjaan tersebut diselesaikan antara 25 H dan 30 H itu.
Mushaf yang disusun pada masa khalifah Usman bin Affan ini lebih lengkap jika dibandingkan dengan mushaf pada masa khalifah Abu Bakar. Al-Zarqani menjelaskan bahwa mushaf Usmani telah dilengkapi penulisannya selain tertib urutan ayat, juga sudah ada urutan-urutan surah.
Al-Zarkasyi menjelaskan hasil kerja tersebut berwujud empat mushaf al-Qur’a>n. Tiga diantaranya di kirim ke Syam, Kuffah dan Basrah dan satu mushaf ditinggalkan di Madinah untuk pegangan khalifah yang kemudian dikenal dengan al-Mushaf al-Imam. Agar persoalan silang pendapat mengenai bacaan dapat diselesaikan dengan tuntas, maka Utsman memerintahkan semua mushaf yang berbeda dengan hasil kerja panitia yang empat itu dibakar. Umat pun menerima perintah itu dengan patuh, sedang qira’at dengan enam huruf lainnya ditinggalkan. Keputusan ini tidak salah, karena qira’at dengan tujuh huruf itu tidak wajib.
Dalam pada itu, latar belakang dibukukannya pada periode itu, karena Utsman bin Affan melihat banyak perbedaan cara-cara membaca al-Qur’a>n. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan; tetapi masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau-kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan.
Dengan usahanya itu, Usman telah berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dengan mengikis sumber perselisihan serta menjaga al-Qur’a>n dari perubahan dan penyimpangan sepanjang zaman.
3. Perbedaan antara pengumpulan Abu Bakar dengan Utsman
Motif Abu Bakar adalah kekhawatiran beliau akan hilangya al-Qur’a>n karena banyaknya huffazh yang gugur dalam peperangan. Sedang motif Utsman untuk mengmpulkan al-Qur’a>n adalah karena banyak perbedaan dalam cara-cara membaca al-Qur’a>n yang disaksikannya sendiri di daerah-daerah dan mereka saling menyalahkan satu sama lainnya. Jadi keduanya memiliki semagat yang sama dalam hal ini meskipun cara-cara yang ditempuh berlainan karena memang tantangan yang dihadapi keduanya berbeda.
Pengumpulan al-Qur’a>n oleh Abu Bakar ialah memindahkan semua tulisan al-Qur’a>n yang semula bertebaran pada kuli-kulit binatang, tulang-belulang, dan pelepah kurma, kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf. Sedang pengumpulan yang dilakukan oleh Utsman adalah menyalinnya dalam satu bahasa (bahasa Quraisy). Dalam usahanya, Utsman telah berhasil menghindarkan terjadinya fitnah dan mengikis sumber perselisihan serta menjaga al-Qur’a>n dari penambahan dan penyimpangan sepanjang zaman, serta mencetaknya menjadi satu mushaf yang baku, yang dikenal dengan nama Mushaf Utsmani.
Intinya pada periode Khulafa’ al-Ra>syidu>n, masalah pengumpulan teks al-Qur’a>n sudah berlangsung bahkan jauh sebelum itu yakni ketika Nabi masih hidup meski dalam tahapan yang lebih sederhana. Periode selanjutnya Khalifah Utsman bin Affan telah menyempurnakan tahapan itu.
D.Usaha Lanjutan Pengumpulan dan Pemeliharaan al-Qur’a>n Pasca Khulafa’ al-Ra>syidu>n
Setelah periode Khalifah Utsman, pemeliharaan al-Qur’a>n di kalangan umat Islam semakin diperketat dengan teliti dan hati-hati. Naskah-naskah al-Qur’a>n yang dikirim ke negara-negara Islam pada masa pemerintahannya, disalin kembali oleh umat Islam dengan penuh kehati-hatian dengan tulisan yang lebih indah dan rapi sesuai dengan perkembagan khat Arab.
Abdul Aziz bin Marwan, seorang Gubernur Mesir setelah menulis mushaf al-Qur’a>n, ia menyuruh umat Islam memeriksanya seraya berkata, “siapa yang dapat menunjukkan barang sesuatu kesalahan dalam tulisan ni, akan diberikan kepadanya seekor kuda dn 30 dinar.” Di antara yang mmeriksa itu ada seorang qari’ yang dapat menunjukkan suatu kesalahan, yaitu kata “naj’ah”, padahal yang sebenarnya “na’jah”, QS. Al-S{ha>d, 38:23.
Dengan adaya huruf cetak yang memahami huruf Arab, maka dapat pulalah al-Qur’a>n dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1694 M., di Kota Hanburg Jerman. Setelah Guthenberg (1397-1468 M) berhasil menciptakan mesin cetak dengan menggunkan huruf bergerak pada pertengahan abad ke-15 M. Dengan demikian umat muslim bisa menikmati teknologi cetak dalam penulisan teks al-Qur’a>n pada abad ke-17 M.
Sehubungan dengan penelitian mushaf-mushaf di Indonesia, Pemerintah Indonesia telah membentuk suatu panitia yang bernama Lajnah Pentashhih Mushaf al-Qur’a>n yang bertugas memeriksa dan mentashhih naskah-naskah al-Qur’a>n yang akan dicetak atau yang telah dicetak. Bahkan Indonesia memiliki mushaf al-Qur’a>n Pusaka yang berukuran 1 x 2 meter, yang ditulis dengan tulisan tangan oleh para ahli khat di Indonesia, di mana penulisannya di mulai dari tahun 1958-1960.
Sekilas fakta ini sudah cukup menjadi bukti bahwa Indonesia sebagai negara terbesar berpenduduk muslim di dunia juga memiliki perhatian dan kepedulian yang cukup besar terhadap eksistensi al-Qur’a>n sebagai Kitab Suci dan Sumber Hukum, dan sekaligus memiliki semangat untuk menjaga dan memelihara kemurnian dan keontentikan al-Qur’a>n.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan diatas, penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
a) Jam’ul Qur’a>n adalah proses penyampaian, pencatatan, pengumpulan catatan dan kodifikasi hingga menjadi mushaf al-Qur’a>n.
b) Bahwa pengumpulan al-Qur’a>n terjadi pada tiga masa, di mana masing-masing dilatarbelakangi oleh peristiwa yang berbeda, terkhusus latar belakang pengumpulan al-Qur’a>n dimasa Rasulullah saw. adalah untuk menjaga kesempurnaan al-Qur’a>n selama proses diturunkannya.
c) Di masa kekhalifahan Abu Bakar di latar belakangi oleh peristiwa perang Yamamah di mana para sahabat huffadz banyak yang syahid dalam peperangan tersebut. Dan terakhir pada masa kekhalifan Utsman, pada masa ini terjadi perselisihan terhadap perbedaan bacaan di kalangan umat yang berujung pada saling menyalahkan bahkan muncul pertikaian dan pengkafiran. Olehnya itu Utsman kemudian berinisiatif untuk mengumpulkan al-Qur’a>n menjadi satu mushaf yang menjadi pegangan bersama oleh semua umat Islam pada masa itu.
d) Setelah periode Khalifah Utsman, pemeliharaan al-Qur’a>n di kalangan umat Islam semakin diperketat dengan sangat teliti dan hati-hati. Untuk pertama kalinya al-Qur’a>n dicetak pada tahun 1694 M., di Kota Hanburg Jerman. Pemerintah Indonesia sendiri juga memiliki perhatian dan kepedulian yang serius dalam hal pemeliharaan mushaf al-Qur’a>n.

DAFTAR PUSTAKA
Adnan Amal, Taufik. Rekonstruksi Sejarah al-Qur’a>n. Cet. I, Yogjakarta: Forum kajian Budaya dan Agama, 2001.

Departemen Agama. Al-Qur’a>n dan Terjemahannya. Jakarta: PT. Bumi Restu,1977.

Mardan. Al-Qur’a>n: Sebuah Pengantar Memahami al-Qur’a>n Secara Utuh. Jakarta: Pustaka Mapan Jakarta, 2009.

Ma’rifat, Muhammad Hadi. Sejarah al-Qur’a>n, terj. Thoha Musawa. Cet. II, Jakarta: Al-Huda, 2007.

Mihsan, Muhammad Salim. Tarikh al-Qur’a>n. Iskandariah: Muassasah al-Syabab al-Jamiah, t,th.

Al-Munawwir, Ahmad Warsan. Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia. Cet. XIV; Surabaya: Pustaka Progres, 1997.

Ash-Shabuny, Ali Muhammad. Studi Ilmu al-Qur’a>n. terj. Aminuddin. Cet. I, Bandung: Pustaka Setia, 1999.

Ash Shiddieqy, Hasybi. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’a>n / Tafsir. Cet. VIII; Jakarta: Bulan Bintang,1980.

Shihab, Quraish. Membumikan al-Qur’a>n: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan. Cet.IX;Bandung: Mizan,1995.

Shihab, Quraish, et al.. Sejarah dan Ulumul Qur’a>n. Cet. I, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999.

Al-Qattan, Manna’. Mabahis fi Ulum al-Qur’a>n. t.t.: Mansyuriah al Haditsah,1973.

Watt, W. Wontgomery. Bell’s Introduction to the Qur’a>n. diterjemahkan oleh Taufik Adnan Amal dengan judul, Pengantar Studi al-Qur’a>n. Cet.II; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1995.

Al-Zarkasyi, Badr al-Din Muhammad ibn Abdullah. Al-Burhan Fii ‘Ulu>m al-Qur’a>n. Kairo:al-Babi al-Halabi, 1957.

Al- Zarqani, Muhammad Abd al-Adzim. Manahal al-Irfan fi ‘Ulu>mu al-Qur’a>n. Juz I, t.t: Dar al-Fikr, 1996.